LATIHAN MENTAL UNTUK TEKNIK

Latihan mental untuk teknik adalah intinya bagaimana atlet sadar akan gerakannya sehingga saat kompetisi dia sadar akan kemempuan takninya dan cukup dengan fokus pada teknik maka hasilnya sesuai dengan tingkat kekempuan atau keterampilan teknik yang dimiliki saat latihan… keharusan atlet memilih atas saran pelatih teknik yang baik dan benar.

Dalam pelatihan ideomotor , “tingkat master” dari pelatihan mental, seseorang melihat secara intensif perspektif batin dari suatu gerakan, yaitu membayangkan dengan tepat bagaimana rasanya pelaksanaan gerakan dan di mana titik-titik gerakan itu. Tanda-tanda ini kemudian dikodekan dalam kode pendek kinestetik-ritmik individu sehingga kinerja mental dari tindakan gerakan bertepatan dalam waktu dengan pelaksanaan praktis gerakan yang optimal.

Untuk melaksanakan latihan mental (dari Janssen, 1996, 203-204)

Tahap 1: Pengembangan regulasi gerakan individu yang tertulis

Urutan gerakan harus dijelaskan dalam istilah “script” menggunakan istilahnya sendiri. Skrip ini adalah formulir awal yang akan ditingkatkan dan disederhanakan seiring dengan berjalannya proses pelatihan. Tulis urutan gerak apa yang terjadi pada bagaian bagian tubuh Anda seperti sebuah skenario untuk tubuh.

 

Tahap 2: pelajari aturan gerakan dengan hati dalam pembicaraan sendiri

Aturan gerakan yang benar yang disetujui oleh pelatih harus dihafal dengan lancar dan dapat membayangkannya gerakannya . Hapalkan urutan geraknya sampai seperti Anda membaca puisi sehingga pikiran memahami betul apa yang akan dipperintahkn otak Anda kepada otot.

 

Tahap ketiga: melatih simpul

Jika Anda dapat menggambarkan urutan gerakan dengan hati, itu harus dipecah menjadi beberapa fase (bagian) dan ditandai dengan simpul. Jika rangkaiannya terlalu panjang maka hapalkan dan gambarkan dengan membagi beberapa bagian dan setelah perbaianan benar mulai gabungkan satu persatu sehingga terjadi rangkaian yang sebenarnya. Misalnya di olahraga pencak silat di No. seni maka rangkaiannya bagi dalam beberapa jurus dan seterusnya gabungkan antar jurusnya.

 

Tahap 4: Pengkodean ritmik-kinestetik

Node harus diterjemahkan ke dalam kode pendek kinestetik-ritmik individu jika memungkinkan. Pengkodean perbagian akan mempermudah otak mendapatkan input sehingga menjadi intruksi untuk ototnya.

Contoh dari di panahan:

Posisi – rilis – bidik – lepas.

 

Tingkat keempat adalah “bentuk master” yang dapat dipraktikkan dalam pelatihan dan kompetisi. Jika perlu, Anda dapat kembali ke level tiga atau dua dalam latihan untuk lebih mengasah atau memperbaiki teknik Anda.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

X